Sekolah Indah Bernama Ramadhan

Oleh M. Anwar Djaelani

Ibadah puasa Ramadhan dapat diibaratkan seperti sekolah. Benar, laksana madrasah, sebab puasa berfungsi sebagai media pendidikan dan pelatihan. Lewat puasa, hati dan raga terkondisikan untuk selalu berada di Jalan-Nya. Inilah raihan posisi terbaik di hadapan Allah: Manusia bertaqwa.

Indah, Indah!
Sebagai sebuah “sekolah”, puasa Ramadhan punya “kurikulum”. Mari kita perhatikan! Pertama, bagaimana cara hati berpuasa? Puasa hati adalah dengan menjauhkan hati dari hal-hal yang merusaknya seperti syirik, keyakinan yang sesat, penyakit waswas, dan sifat-sifat tercela lainnya. Hati orang beriman berpuasa dari sifat sombong, misalnya. Tidaklah mungkin kesombongan ada dalam hati orang beriman, karena hal itu termasuk perkara yang dilarang.

Merindukan Kondisi Ramadhan

Hati harus kita ajak berpuasa, sebab hati itu memiliki peran vital bagi kehidupan manusia. “Dalam tubuh manusia terdapat segumpal dagingJika itu baik, maka baiklah seluruh tubuhnya. Namun, jika itu rusak, maka rusaklah seluruh tubuhnya. Camkan, itulah hati!” (HR Bukhari-Muslim). Oleh karena itu, di samping merawat hati dengan berpuasa, Rasulullah Saw juga mencontohkan untuk selalu berdoa, “Wahau Dzat yang dapat membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami atas agama-Mu”. Artinya, bagi orang beriman, hatinya berpuasa pada bulan Ramadhan dan di bulan-bulan lainnya.

Kedua, bagaimana cara perut berpuasa? Puasa Ramadhan mengharuskan perut menahan diri untuk tak makan (sekalipun itu halal dan apalagi yang haram) dalam waktu yang ditentukan. Kelak, di luar Ramadhan, kita akan terlatih untuk tak memakan yang haram.

Berhati-hatilah, sebab status makanan yang kita konsumsi memiliki dampak bagi kehidupan dan akhlak seseorang. “Hai Rasul-Rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang shalih” (QS Al-Mu’minuun [23]: 51). Terlihat, mengonsumsi makanan yang baik-baik menjadi prasyarat sebelum beramal shalih dan itu bagian dari manifestasi rasa syukur kita kepada Allah.

Ketiga, bagaimana cara mata berpuasa? Puasa mata berupa menahan pandangan dari hal-hal yang dilarang Allah. Ingatlah! “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandanganya dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha-Mengetahui apa yang mereka perbuat’. Katakanlah kepada wanita yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya’.” (QS An-Nuur [24]: 30-31).  Sungguh, mata itu pelaksana keinginan hati dan pintu jiwa manusia. Oleh karena itu, mata harus kita didik untuk hanya digunakan di jalan-Nya.

Keempat, bagaimana cara telinga berpuasa? Telinga orang yang berpuasa hanya akan mendengarkan hal-hal yang baik saja, agar dia selalu dapat mengingat Allah. “Dan, apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al-Qur’an) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata: ‘Yaa Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al-Qur’an dan kenabian Muhammad Saw)’.” (QS Al-Maa’idah [5]: 83).

Kelima, bagaimana cara lisan berpuasa? Ucapkanlah yang baik-baik saja dan sekali-kali jangan ucapkan hal yang tak bermakna dan terlebih lagi yang bersifat maksiat. Lebih baik diam ketimbang berbicara tapi mengundang ketergelinciran diri. Ingatlah! “Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir” (QS Qaaf [50]: 18). ”Seseorang dikatakan Muslim jika dapat membuat Muslim lainnya merasa aman dari lisan dan tangannya” (HR Bukhari-Muslim).

Memang, lisan adalah jalan menuju kebaikan. Tetapi –jika tak hati-hati-, lisan adalah jalan ke keburukan. Oleh karena itu, mengajak lisan berpuasa adalah amal yang istimewa.

Kecuali hal-hal di atas itu, masih merupakan “kurikulum” Sekolah Ramadhan, ada beberapa sikap yang harus dijaga di saat Ramadhan. Hal yang paling utama, rawat niat berpuasa Ramadhan dengan sebaik-baiknya. Pelihara sikap ikhlas, semata-mata untuk mengharap ridha Allah. Lalu, berpuasalah sesuai dengan sunnah Rasulullah Saw. Misal, akhirkan saat bersahur dan segerakan kala berbuka. Perbanyak dzikir, doa, dan istiqomah memelihara shalat tarawih.

Jika seluruh “kurikulum” Sekolah Ramadhan sudah kita laksanakan dengan baik, maka patut kiranya kita bersiap-siap diwisuda saat Hari Raya Idul Fitri sebagai manusia yang paling mulia, yaitu manusia bertaqwa. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu” (QS Al-Hujuraat [49]: 13).

Terbaik, Terbaik!
Terakhir, jika taqwa telah menjadi keseharian kita, maka sungguh hal itu akan bermanfaat bagi keselamatan serta kebahagiaan kita di dunia dan akhirat. Hal ini, karena taqwa adalah bekal terbaik dalam mengarungi hidup untuk menuju Negeri Akhirat. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa” (QS Al-Baqarah [2]: 197)[]

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *