Sinergi anak, orang tua & guru saat PAT Online SD-SMP Luqman Al Hakim Surabaya

www.luqmanalhakim.com –Hari ini jadwalnya PAT online buat B1 dan B3. Jika B1 dapat jatah ujian jam 8 pagi, B3 dapat jatah ujian jam 4 sor, saat maknya lagi sibuk-sibuknya masak buat persiapan buka puasa. Ada enaknya siih, minimal anak 2 itu nggak perlu berantem rebutan laptop dan modem, bisa gantian. Saat adiknya harus ujian mbaknya sudah nyantai, busa ngegame apa bantu-bantu emaknya masak karena harus disambi momong B4 yang sangat unpredictable siklus biologisnya.

Entah karena ujiannya yang online atau gimana, kok anak-anak ini ga tegang sama sekali ya? Tak ada bedanya dengan pelajaran biasa. Nilainya juga ga ada bedanya dengan saat ujian di sekolah (“85 is considered as F in my family,” gitu curhat B1 pada temannya ). Ya iyalah, Ying. Terutama untuk nilai Biologi, Kimia ma Fisika, juga Bhs Inggris. Itu sih aib bagi keluarga! Alhamdulillah dua hari PAT tak ada drama bagi dia.

Lain ceritanya dengan B3.

PAT B3 ini bagi kami berdua hampir mirip dengan film horor – menegangkan! Gimana enggak, dihari-hari biasa jam segitu adalah waktunya B1 kabur entah kemana. Bisa jadi dia main ke rumah Rafi di dekat sekolah TKnya dulu, atau mancing bersama Nanda, juga teman TK dulu, atau lihat film di rumah Ezar, masih teman TK dulu.
Jadi jauh-jauh hari kami sudah “konser” mengulang-ulang lagu lama, “Habis ashar dilarang keras keluar rumah, mau ujian!” Ga lucu kan kalau waktunya ujian kami masih harus keliling kampung nyari dia?

Alhamdulillah kali ini anaknya nurut, termasuk harus sudah tidur siang sebelum ashar. Karena ga lucu juga kan kalau dia ngerjakan soal saat otak belum lagi booting. Tapi ternyata masalahnya nggak berhenti sampai disini. B3 ini ngerjain soal cepat banget. Ga sampai setengah jam ujian Bhs Indonesia sudah disubmit. Lho lho lho, ga diteliti dulu? Paniklah mama sama abinya.
“Besok ngerjakannya yang teliti, ga boleh ngawur, nggak boleh ngawang, ga boleh langsug disubmit! Ngerti nggak, Iz?” Warning bapaknya galak. Anaknya iya iya aja sih, tapi apakah benar-benar dilaksanakan?

Kalau menurut dia sih iya, udah nurut sama Papinya. Tapi eh tapi, ujian dimulai jam 16.00, jam 16.14 walasnya, Ustadz Saruji, sudah komen di grup WA ortu, “Lho, Faiz sudah selesai ya?” Whatt??

“Faiz, kok sudah disubmit? Mama bilang apa soal ngerjain ujiañ? YANG TELITI! SUDAH KAMU PERIKSA?” Tanya maknya membahana sambil tangannya pegang suthil. Ini nanti kalau esmosi bisa-bisa suthilnya lepas melayang terbang menyeberangi koridor. Dan B3 Alhamdulillah cukup ngeri melihat suthil di genggaman emaknya, meski dia juga sudah lupa kapan terakhir maknya melayangkan hukuman pakai tangan.

Untunglah B3 tak sendiri, kami para ibu-ibu curhat di grup karena anak kamo yang grusa-grusu itu. Setidaknya Elang, Ravie, dan Rafa senasib sama B3, submit ujian jauh sebelum deadline tiba. Tentu saja hasil akhirnya beda, Ravie masih mending dapat 96, B3 cuman dapat 76 #ngelusdada. Yaaah meski dia anak IPA matematika dapat segitu tetap saja aib itu  .

Tapi drama anak- anak ketika PAT online bukanlah satu-satunya yang kami nikmati. Dari sini kami jadi tahu bahwa ternyata guru anak-anak kami mendedikasikan waktu, tenaga, konsentrasi dan quota demi murid-muridnya yang kadang mbethik luar biasa itu #tunjukhidungB3. Jadi tak jarang selama persiapan PAT kami menjumpai para Ustadz dan Ustadzah mengabsen murid-muridnya yang belum sign in di microsoft teams.
“Xxxxx, ayo Kak stay on teams.” Xxxxx kemana yà? Tolong dong Kak, anaknya dihubungi!”
“Lho ini kok sudah selesai, sudah langsung disubmit? Yang lain mohon jangan buru.”
“Yyyy salah masuk teams, ayo balik lagi ke jalan yang benar!”
Inilah salah satu bentuk kepeduliàn para guru yang selama ini kita anggap hanya mementingkan diri sendiri. Untuk ujian online yang harusnya tak ada pengawas pun ternyata di SD dan SMP Luqman Al Hakim Surabaya tak hanya dipantau oleh satu dua pengawas, tapi sepertinya seluruh walas memantau dan mengawasi murid-muridnya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *